Minggu, 10 Juni 2012

Tipologi Psikologi Kepribadian


TIPOLOGI PSIKOLOGI  KEPRIBADIAN
Dalam bab ini akan dipaparkan bahwa usaha-usaha untuk memahami dan menyingkap perilaku dan kepribadian manusia antara lain menghasilkan pengetahuan yang disebut tipologi. Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar faktor-faktor tertentu, misalnya karakteristik fisik, psikis, pengaruh dominan, nilai-nilai budaya, dan seterusnya.
Di bawah ini akan diketengahkan beberapa jenis tipologi psikologi kepribadian, yang dibedakan berdasar komponen kepribadian, antara lain sebagai berikut ;
A.     Tipologi Konstitusi
Tipologi konstitusi merupakan tipologi yang dikembangkan atas dasar aspek jasmaniah. Dasar pemikiran yang dipakai para tokoh tipologi konstitusi adalah bahwa keadaan tubuh, baik yang tampak berupa bentuk penampilan fisik maupun yang tidak tampak, misalnya susunan saraf, otak, darah, dan lain sebagainya dalam penentuan ciri-ciri seseorang.
Ada beberapa ahli yang telah mengembangkan tipologi konstitusi, di antaranya adalah Hippocrates dan Gelenus, De Giovani, Viola, Sigaud, Sheldon, dan seterusnya. Uraian berikut hanya menyajikan beberapa tipologi konstitusi. Dalam bab ini juga akan terdapat teori-teori yang tidak semata-mata membahas soal kontitusional seperti misalnya teori E. Kretschmer dan teori W.H. Sheldon, tetapi yang apa bila diteliti benar-benar akan nyata bahwa dasar pandangan atau orientasinya juga melalui konstitusional. Di antaranya adalah :
1.      Tipologi Hypocrates – Galenus
Tipologi ini dikembangkan oleh Gallenus berdasarkan pemikiran Hippocates. Hippocrates (460-370 SM) adalah dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran, karena itu tidak mengherankan kalau ia membahas kepribadian manusia berdasar kontitusional, yang terpengaruh oleh kosmologi empedukles, yang menganggap bahwa alam semesta beserta isinya tersusun dari empat inti dasar, yaitu tanah, air, udara dan api. Dengan sifat-sifat yang didukungnya ialah kering, basah, dingin dan panas, maka Hippocrates berpendapat bahwa dalam diri seseorang terdapat empat macam sifat yang didukung oleh keadaan konstitusional yang berupa cairan-cairan yang ada dalam tubuh orang itu, yaitu : [1]
a).    Sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning)
b).    Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam)
c).    Sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir)
d).   Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah)
Menurut Hippocates keempat cairan tersebut ada dalam tubuh dan dalam proporsi tertentu. Apabila cairan-cairan tersebut adanya dalam tubuh dan dalam proporsi selaras (normal), maka orangnya dalam keadaan normal/sehat, sebaliknya apabila keselarasan proporsi tersebut terganggu maka orangnya menyimpang dari keadaan normal/sakit.
Kemudian Galenus (129-199 SM) menyempurnakan ajaran Hippocrates tersebut dan membeda-bedakan kepribadian manusia atas dasar keadaan proporsi campuran cairan-cairan tersebut. Galenus sependapat dengan Hippocrates, bahwa di dalam tubuh manusia ada empat macam cairan, yaitu : Chole, Phlegma, Melanchole dan Sanguis.
Cairan-cairan tersebut adanya dalam tubuh manusia secara teori dalam proporsi tertentu. Kalau suatu cairan adanya dalam tubuh itu melebihi proporsi yang seharusnya (jadi dominan) maka akan mengkibatkan adanya sifat-sifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang sebagai akibat dari pada dominannya salah satu cairan badaniah itu oleh Galenus disebutnya dengan temperament. Jadi dengan dasar pikiran yang telah dikemukakan itu sampailah Galenus kepada penggolongan manusia menjadi empat tipe temperament, berdasar pada dominasi salah satu cairan badaniahnya.
Pandangan Hippocrates yang kemudian disempurnakan oleh Galenus selanjutnya disebut tipologi Hippocrates Galenus dapat disajikan secara ringkas pada tabel berikut :[2]
TABEL 1
Tipologi Hyppocrates – Galenus
Cairan badan yang dominan
Prinsip
Tipe
Sifat-sifat khasnya
Chole
Tegangan
Kholeris
Hidup (besar semangat),
Keras, hatinya mudah terbakar,
Daya juang besar, optimis,
Melanchole
Penegaran (rigity)
Melankholis
Mudah kecewa, Muram, penakut
Daya juang kecil, pesimis,
Phlegma
Plastisitas
Phlegmatis
Tak suka terburu-buru (tenang),
Tak mudah untuk dipengaruhi,
Setia, sabar
Sanguis
Ekspansivitas
Sanginis
 lincah, Ramah, mudah tersenyum, Mudah berganti haluan,
2.      Tipologi Mazhab Italia
a.       Teori De-Giovani ; Hukum Deformasi
Pada tahun 1880 De-Giovani menerbitkan karyanya yang berjudul Morfologia del Corpo Umamo. Dalam buku tersebut dia merumuskan hukum deformasi, yang berisikan penggolongan variasi tubuh manusia. Secara singkat pendapat De-Giovani tersebut adalah bahwa ada tiga macam variasi tubuh manusia, yaitu :[3]
1).    Orang dengan togok[4] kecil cenderung untuk mempunyai bentuk tubuh yang panjang, yang mempunyai hubungan dengan habitus phthisis.
2).    Orang dengan togok besar cenderung untuk mempunyai bentuk tubuh pendek, yang mempunyai hubungan dengan habitus apoplectis.
3).    Orang-orang dengan togok normal cenderung untuk mempunyai proporsi badan yang normal.
b.      Tipologi Viola
Berdasarkan atas bahan-bahan penyelidikan serta teori De-Giovani tersebut, Viola dalam penyelidikan-penyelidikan kemudian berhasil menemukan adanya tiga golongan bentuk tubuh manusia, yaitu :[5]
1).    Microsplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran-ukuran menegaknya lebih dari pada dalam perbandingan biasa, sehingga tubuh kelihatan jangkung.
2).    Macrosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran-ukuran mendatarnya lebih dari pada dalam perbandingan biasa, sehingga tubuh kelihatan pendek.
3).    Normosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran-ukuran menegak dan mendatarnya selaras, sehingga tubuh kelihatan selaras.
Pendapat ini ternyata banyak sekali persamaannya dengan pendapat Kretschmer yang akan dikemukakan beberapa waktu kemudian.
Rava, seorang pendukung madzhab Italia yang kemudian menemukan, bahwa :
a).    Penderita-penderita neurasthenia dan psychasthenia kebanyakan terdapat pada golongan microsplanchnis.
b).    Penderita-penderita manis-depresif kebanyakan terdapat pada golongan macrosplanchnis.
Selanjutnya perlu pula kiranya dikemukakan pendapat madzhab Italia mengenai sebab musabab variasi tubuh manusia itu. Madzhab Italia berpendapat, bahwa variasi atau bermacam-ragamnya keadaan jasmani manusia itu berakar pada keturunan, jadi tergantung kepada dasar yang di bawa sejak lahir dan dengan demikian tak dapat diubah oleh pengaruh dari luar.
3.      Tipologi Mazhab Perancis : Morfologi Konstitusional ; Sigaud
Pada waktu yang bersamaan dengan timbul dan berkembangnya madzhab Italia, di Perancis terdapat pula kegiatan yang serupa, yaitu kegiatan dalam penyelidikan mengenai variasi tubuh manusia, yang dilakukan oleh sekelompok ahli di bawah pimpinan Sigaud. Para penyelidik Perancis ini menyelidiki variasi tubuh manusia itu dari segi yang agak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh madzhab Italia.
Dalam menggolongkan manusia yang beradasar pada jasmaniah kategori yang digunakan sebagai dasar adalah dominasi sesuatu fungsi fisiologi di dalam pertumbuhan organisme. Yaitu motorik, pernafasan, pencernaan dan susunan saraf sentral. Fungsi-fungsi yang manakah yang terkuat pada seseorang, disitulah orang itu digolongkan, karena itu Sigaud menggolongkan manusia atas empat golongan, yaitu :[6]
1).    Orang yang kuat fungsi motoriknya (berwujud keadaan alam), termasuk tipe maskuler, dengan ciri-cirinya yaitu anggota badannya serba panjang, bersipir, serba bersudut dan lain sebagainya.
2).    Orang yang kuat pernafasannya (berwujud udara), termasuk tipe respiratoris, dengan ciri-cirinya, yaitu bentuk dadanya membusung, wajahnya lebar dan lain sebagainya.
3).    Orang yang kuat percernakannya (berwujud makan-makanan), termasuk tipe digestif, dengan ciri-cirinya, yaitu perutnya besar, pinggangnya lebar dan lain sebagainya.
4).    Orang yang kuat susunan saraf sentralnya (berwujud keadan sosial), termasuk tipe serebral, dengan ciri-cirinya, yaitu langsing, tulang tengkoraknya bagian atas besar sekali dan lain sebagainya.
Dengan dasar pikiran tersebut di atas dan pendapat penggolongan tersebut, maka untuk lebih mudah memahaminya dalam uraian ini dapat diikhtisarkan dalam tabel berikut ini :[7]
TABEL 2
Tipologi Madzhab Perancis : Sigaud
Fungsi yang dominan
Tipe
Keadaan jasmani yang khas
Motorik
Maskuler
Muka penuh (well-formed), anggota badan kokoh, otot-otot tumbuh dengan baik, oragan-oragan berkembang secara selaras
Pernafasan
Respiratoris
Thorax dan leher lebih bersar dari pada yang lain, muka lebar
Pencernaan
Digestif
Thorax pendek besar, pinggang besar, rahang besar, mata kecil, leher pendek
Susunan saraf sentral
Serebral
Dahi menonjol ke depan dengan rambut di tengah, mata bersinar, daun telinga lebar, tangan dan kaki kecil

4.      Morfologi konstitusional di Jerman : Kretschmer
Teori Kretschmer merupakan salah satu hasil karya yang besar pada permulaan abadnya yang di usung oleh Kretschmer seorang ahli penyakit jiwa bangsa Jerman, dalam permulaan abad itu Kretschmer tidak semata-mata membahas masalah konstitusi, dia juga membahas masalah temperamen, sebagaimana terbukti dalam karyanya : Korperbau und Character (1921), walaupun pada dasarnya pandangan atau orientasinya tetap menggunakan dasar konstitusional.
Sehingga tokoh ini menyusun tipologinya berdasarkan pada tipologi konstitusi fisis dan tipologi konstitusi psikis. Dari dua macam tipologinya itu kemudian ditunjukkan adanya hubungan satu sama lainnya, sehingga pendapatnya sangat menarik bagi para ahli-ahli lain dan sempat mendapat sambutan yang positif. Keterkenalan tipologi Kretschmer ini disebabkan oleh adanya hubungan antara tipologi jasmani dan rohani, yang pada dasarnya manusia adalah makhluk monodualisme psikhofisis, yang itu merupakan hakekat hidup manusia.
Berdasar pada pengalaman-pengalamannya selama bekerja sebagai dokter jiwa, ia kemudian menyimpulkan bahwa antara bentuk tubuh dengan sifat-sifat temperamen ada hubungan erat. Sehingga ia mengklasifikasinya sebagai berikut ;[8]
a.       Tipologi konstitusi jasmani (biasanya disebut konstitusi saja)
Berdasarkan atas penyelidikannya terhadap orang-orang yang dirawatnya, maka Kretschmer menggolong-golongkan manusia atas dasar tubuh jasmaninya menjadi empat macam, dengan keterangan sebagai berikut :
1).    Piknis atau Stenis
Ukuran mendatar lebih dari keadaan biasa, sehingga kelihatan pendek-gemuk, maka sifat-sifat khas tipe ini adalah badan agak pendek, dada membulat, perut besar, bahu tidak lebar, leher pendek dan kuat, lengan dan kaki agak lemah, kepala agak merosot ke muka di antara kedua bahu, sehingga bagian atas dari tulang punggung tampak sedikit melengkung, banyak lemak sehingga urat-urat dan tulang-tulang tak kelihatan nyata dan sebagainya. Dalam tipe ini bisa memperoleh bentuknya yang jelas setelah orang berumur sekitar 40 tahun.
2).    Laptosom atau Asthenis
Ukuran menegak lebih dari keadaan biasa, sehingga tubuh kelihatan jangkung, maka sifat-sifat khas tipe ini adalah badan langsing kurus, rongga dada kecil-sempit, rusuknya mudah dihitung, perut kecil, bahu sempit, lengan dan kaki kurus, tengkorak agak kecil, tulang-tulang di bagian muka kelihatan jelas, muka bulat telur, berat relatif kurang dan sebagainya.
3).    Atletis
Ukuran mendatar dan menegak dalam perbandingan seimbang, sehingga tubuh kelihatan selaras, tipe ini merupakan perpaduan antara piknis dan asthenis, maka sifat-sifat khas tipe ini adalah tulang-tulang dan otot-otot kuat, badan kokoh dan tegap, tinggi cukupan, bahu lebar dan kuat, dada besar dan kuat, perut kuat, panggul dan kaki kuat, dalam perbandingan dengan bahu dan dada kelihatan agak kecil, tengkorak cukup besar dan kuat, kepala dan leher tegak, muka bulat telur, lebih pendek dari pada tipe asthenis dan sebagainya.
4).    Displatis
Tipe ini merupakan penyimpangan dari ketiga tipe yang telah dikemukakan sebelumnya, tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu di antara ketiga tipe itu, karena tidak memiliki ciri-ciri yang khas menurut tipe-tipe tersebut. Bermacam-macam bagian seolah-olah bertentangan satu sama lainnya. Kretschmer menganggap tipe displastis ini menyimpang dari konstitusi normal. Dalam pada itu perlu dicatat bahwa :
(a).  Tipe-tipe itu lebih nyata pada pria dan kurang nyata pada wanita.
(b). Prakteknya yang menjadi penting ialah pertentangan piknis dan asthenis.
(c).  Tipe-tipe tersebut terdapat baik pada orang yang mengalami gangguan jiwa maupun pada orang yang sehat.
b.      Tipologi konstitusi rohani-kejiwaan (temperamen)
Pendapat Kretschmer dalam lapangan ini sangat dipengaruhi oleh pendapat Kraepelin dalam lapangan psikiatri. Kraepelin menggolong-golongkan penderita psikosis menjadi dua golongan yaitu :
a.       Dementia praecox yang kemudian disebut schizophrenia
Golongan ini masih hidup di antara orang-orang lain, tetapi seperti telah mengubur dirinya sendiri, mereka tidak lagi suka menghiraukan apa-apa yang ada di sekitarnya, mereka kehilangan kontak dengan dunia luar dan seolah-olah hidup untuk dan dengan dirinya sendiri (autisme).
b.      Manis-depresif
Golongan ini sifat jiwanya selalu berubah-ubah, merupakan siklus atau lingkaran yaitu dari sifat manis (giat, lincah) ke sifat depresif (lemah, tak berdaya), kembali ke sifat manis lagi lalu gampang berubah menjadi depresif dan seterusnya.
Dalam lapangan psikiatri, sebagaimana ahli-ahli lain Kretschmer menerima pendapat ini. Selanjutnya ia menemukan bahwa gejala-gejala seperti yang terdapat pada para penderita psikosis itu terdapat pula pada orang sehat, kendatipun sangat tidak jelas, sehingga ia merumuskan bahwa kedua macam sifat-sifat kejiwaan yang terdapat pada para penderita psikosis itu adalah temperamen normal yang menjadi sangat jelas. Jadi perbedan antara penderita psikosis dan orang sehat hanyalah perbedaan kuantitatif. Maka manusia berdasarkan termperamennya (manusia yang sehat) menurut Kretschmer dapat dibedakan menjadi dua golongan atau tipe, yaitu :
a.       Tipe schizothym
Orang yang bertemperamen schizothym sifat-sifat jiwanya bersesuaian dengan penderita schizophrenia, hanya sangat tidak jelas. Golongan ini mempunyai sifat sukar mengadakan kontak dengan dunia sekitarnya, suka mengasingkan diri, ada kecenderungan ke arah uathisme dan menutup diri sendiri. Sebenarnya tipe ini dapat pula disebut "supra-tipe" karena ke dalam tipe ini dimasukkan sejumlah golongan (tipe) tertentu, yaitu :
1).    Die Vernehm Feinsinnigen                          3). Die Weltfremden Idealisten
2).    Die Kuhlen Herrensturen und Egoisten       4). Die Trockenen und Loahmen
b.      Tipe cyclthym
Orang yang bertemperamen cyclthym sifat-sifat jiwanya bersesuaian dengan penderita manis-depresif, hanya sangat tidak jelas. Golongan ini mudah mengadakan kontak dengan dunia sekitar, mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, mudah turut merasa akan suka dan duka, jiwanya terbuka. Tipe ini juga mencakup sejumlah golongan (tipe) tertentu, yaitu :
1).    Die Geschwatzig Heitern                             4). Die Bequenen Genieazer
2).    Die Ruhigen Humoristen                             5). Die Tatkraftigen Praktiker
3).    Die Stillen Gemutsmenschen
5.      Psikologi Konstitusional di Amerika Serikat : W. H. Sheldon
Sebagaimana halnya Sigaud dan Kretschmer, bahwa W. H. Sheldon juga berpendapat tentang kepribadian seseorang dalam banyak hal berhubungan dengan keadaan jasmani yang nampak. Struktur jasmani merupakan hal yang utama yang berpengaruh pada pribadi seseorang. faktor-faktor genetis dan biologis memainkan peranan yang penting dalam perkembangan kepribadian seseorang. maka untuk memudahkan dalam memahami teori kepribadian Sheldon ini, dalam uraian ini dibedakan menjadi dua bagian penting, yaitu
1.      Struktur Fisis
Berbeda dari kebanyakan ahli-ahli dalam lapangan psikologi kepribadian di Amerika Serikat yang umumnya mengemukakan kompenen-komponen yang banyak sekali, maka Sheldon menentukan sejumlah kecil variabel jasmaniah dan temperamen yang tegas, yang dianggapnya merupakan hal yang terpenting dalam tingkah laku manusia (kendatipun dia tidak menutup kemungkinan untuk penyelidikan-penyelidikan yang lebih teliti).
Seperti seorang ahli-ahli konstitusional yang terdahulu Sheldon menentukan dan memberikan ukuran-ukuran  dari pada komponen-komponen jasmaniah manusia. Dalam pada itu perlu diinsafi bahwa Sheldon tidak hanya ingin mendapatkan apa yang disebut biological identification tag. Sheldon berpendapat bahwa faktor-faktor genetis dan biologis memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan individu. Dia percaya juga, bahwa orang mukmin mendapatkan representasi dari pada faktor-faktor tersebut dengan melalui sejumlah pengukuran yang didasarkan pada jasmani. Dalam pandangan Sheldon ada suatu struktur biologis hipotesis, yaitu morphogenotipe yang menjadi dasar jasmani yang nampak (phenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak saja dalam menentukan perkembangan jasmani, tetapi juga dalam pembentukan tingkah laku. Somatipe merupakan suatu usaha untuk mengukur morphogenotipe itu, walaupun harus bekerja dengan cara tidak langsung dan terutama bersandar kepada pengukuran jasmaniah (phenotipe).
Di sini akan dibicarakan cara pendekatan Sheldon untuk mengukur aspek jasmaniah individu dan selanjutnya dikaji usahanya untuk menentukan komponen terpenting yang menjadi dasar tingkah laku atau kerpibadian manusia. Dalam hal ini melalui dimensi-dimensi jasmaniah dapat di bedakan menjadi dua komponen, yaitu[9]
a.       Komponen jasmani primer
Setelah lama menyelidiki dan menilai dengan teliti dari beberapa obyek penelitiannya, Sheldon dengan pembantu-pembantunya mengambil kesimpulan, bahwa ada tiga komponen atau dimensi jasmaniah itu. Ketiga dimensi itu merupakan inti dari pada tehnik pengukuran struktur tubuh, di antaranya yaitu : 1). Endomorphy, 2). Mesomorphy dan 3). Ectomorphy.
Penggunaan ketiga istilah itu dihubungkan dengan ketiga lapisan pada terbentuknya foetus manusia (endoderm, mesoderm dan ectoderm). Dominasi alat-alat yang berasal dari lapisan tertentu menentukan dominasi dari pada komponen tertentu. Dengan demikian maka menurut Sheldon ada tiga tipe pokok dari pada jasmani manusia, yaitu
1).    Tipe Endomorph
Individu yang komponen endomorphynya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah. Endomorph yang berasal dari endoderm, yaitu lapisan terdalam dari embrio yang sesudah berkembang akan menjadi bagian penting dari sistem pencernaan. Tubuh semacam ini cenderung mudah menjadi gemuk dengan tanda utama halus dan bulat, tulang dan otot relatif kurang berkembang dan fisik secara umum tidak cocok untuk kegiatan fisik berat.
2).    Tipe Mesomorph
Individu yang komponen mesomorphynya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah. Mesomorph berasal dari mesoderm, yaitu lapisan tengah dari embrio yang kemudian berkembang menjadi otot, persendian dan sistem sirkulasi. Tubuh semacam ini cenderung ditandai dengan wujud ototnya bersegi-segi, kokoh dan tahan sakit, sehingga cocok untuk kegiatan yang menggunakan kekuatan fisik.
3).    Tipe Ectomorph
Pada golongan ini relatif didominasi oleh kulit dan sistem saraf. Ectomorph berasal dari ectoderm, yaitu lapisan terluar dari embrio yang berkembang menjadi kulit dan sistem saraf. Tubuh yang ectomorph ditandai dengan bentuk tubuh yang tipis, tinggi dan otot yang lemah, dada kecil dan pipih, otot-ototnya hampir tidak kelihatan. Tubuh ini memiliki permukaan yang paling luas dibanding dengan dua tipe lainnya, dalam hal proporsi ectomorph mempunyai otak dan sistem saraf yang paling besar, peka dengan stimulasi dan memiliki perangkat peralatan yang buruk untuk diupakai kompetisi dalam hal kekuatan fisik.
Selain itu tiga tipe yang telah diuraikan di atas, menurut Sheldon ada enam tipe campuran, yaitu di antara tiap dua tipe ada dua tipe campuran, ialah sebagai beriktu :
1).    Endomorph yang Mesomorphis                4). Mesomorphis yang Ectonorphis
2).    Endomorph yang Ectonorphis                  5). Ectonorphis yang Endomorph
3).    Mesomorphis yang Endomorph                6). Ectonorphis yang Mesomorphis
b.      Komponen jasmani skunder
Di samping komponen-komponen jasmani primer sebagaimana disebutkan di atas, Sheldon juga mengemukakan tiga komponen jasmani skunder, yaitu :
1).    Displasia
Dengan meminjam istilah dari Kretschmer, istilah itu dipakai oleh Sheldon untuk menunjukkan setiap ketidaktepatan dan ketidaklengkapan campuran ketiga komponen primer itu pada berbagai daerah dari pada tubuh. Dalam penyelidikan-penyelidikan yang mula-mula Sheldon menemukan bahwa banyak displasia berhubungan dengan ectomorphy, dan lebih banyak pada wanita dari pada laki-laki, penyelidikan yang lebih kemudian membuktikan, bahwa lebih banyak displasia pada para penderita psikosis dari pada pada mahasiswa.
2).    Gynandromorphy
Komponen ini menunjukkan sejauh manakah jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada jenis kelamin lawannya. Komponen ini dinyatakan oleh Sheldon dengan indeks huruf "g". Gynandromorphy adalah campuran sifat fisik antar seks laki-laki dan perempuan, yang kalau campuran itu bersifat psikis biasa disebut "androgini". Laki-laki yang mempunyai indeks "g" yang tinggi, memiliki tubuh yang lembut, panggul lebar, bulu mata yang panjang dan sifat feminin lainnya.
3).    Texture
Komponen yang menggambarkan ukuran kehalusan dan kelembutan fisik yang ditandai dengan komponen "t". komponen ini menilai keindahan dan kemenarikan yang sukar dilakukan secara obyektif. Komponen ini berhubungan dengan persepsi estetik dari penampilan fisik manusia. Adapun yang dimaksud dengan texture (tampang) oleh Sheldon ialah bagaimana individu-individu itu tampak dari luar (dalam bahasa jawa disebut dedeg-piyadeg).
2.      Analisa Kepribadian
Walaupun telah mempunyai alat yang tetap untuk menilai aspek jasmaniah dari pada manusia, namun ahli-ahli psikologi konstitusional harus membuat atau meminjam metode lain untuk menilai tingkah laku atau kepribadian. Dalam hal ini Sheldon bermula dari pangkal duga bahwa walaupun nampaknya ada banyak dimensi atau variabel dalam tingkah laku, tetapi pada dasarnya hanya ada sejumlah kecil komponen-komponen dasar yang diharapkan akan menjadi dasar tingkah laku yang nampak kompleks itu. Sheldon menyusun suatu cara untuk mengukur komponen-komponen dasar itu atas dasar pendapat-pendapat yang telah ada dan kemudian disempurnakan dengan dasar pengetahuan klinisnya serta pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Dalam hal ini Sheldon melakukannya dalam dimensi-dimensi temperamen, yaitu sebagai berikut :[10]
a.       Cara kerja Sheldon
1.      Sheldon mengumpulkan sifat-sifat yang telah terdapat di dalam kepustakaan mengenai kepribadian. Dan dari penelitiannya ini dia mendapatkan sejumlah 650 macam sifat, jumlah ini ditambah dengan penemuan Sheldon sendiri. Kemudian semua sifat itu direduksikan dengan jalan menyatukan sifat-sifat yang mempunyai overlapping dan menghilangkan yang tidak signifikan. Akhirnya Sheldon dengan pembantu-pembantunya mendapatkan 50 sifat yang merupakan represesntasi dari pada semua sifat-sifat tersebut.
2.      Kemudian dicari kelompok sifat (cluster of traits) dengan pedoman untuk memasukkan dalam satu kelompok harus punya angka kolerasi serendah-rendahnya 0, 60 dan masuk dalam kelompok yang berbeda harus punya angka kolerasi setinggi-tingginya 0, 30. dengan cara tersebut maka dapat didapatkan tiga kelompok komponen primer temperamen.
b.      Komponen-komponen primer dari pada temperamen
Ketiga kelompok dari pada sifat-sifat temperamen itu meliputi 22 dari 50 sifat yang telah diketahui. Ketiga komponen itu mula-mula dinamakan faktor I, II dan III, kemudian dinamakan komponen I, II dan III, dan pada akhirnya dinamakan viscerotonia, somatotonia dan cerebrotonia.
1).    Komponen primer temperamen yang pertama dinamakan viscerotonia, karena kelompok sifat-sifat yang dicakupnya berhubungan dengan fungsi dan anatomi alat-alat visceral / digestif. Orang yang viscerotonis itu mempunyai alat pencernaan yang relatif besar dan panjang dengan hati besar. Yang kemudian mempunyai sifat-sifat temperamen sebagai berikut :
a).    Sikapnya tidak tegang dan suka hiburan
b).    Gemar makan-makan
c).    Besar kebutuhannya akan resonasi dari orang lain
d).   Tidurnya nyenyak
e).    Bila menghadapi kesukaran membutuhkan orang lain
2).    Komponen primer kedua dinamakan somatotonia, karena sifat-sifat yang dicakupnya berhubungan dengan dominasi dan anatomi struktur somatis. Orang yang somatotomatis aktifitas ototnya sekehendaknya dominan. Orang yang termasuk golongan ini gemar akan ekspresi maskuler, suka mengerjakan sesuatu yang menggunakan otot, suka mendapatkan pengalaman fisik. Yang kemudian mempunyai sifat-sifat temperamen sebagai berikut :
a).    Sikapnya gagah
b).    Perkasa (energetic)
c).    Kebutuhan bergerak besar
d).   Suka terus terang
e).    Suara lantang
f).     Nampaknya lebih dewasa dari sebenarnya
g).    Bila menghadapi kesukaran butuh melakukan gerakan-gerakan tertentu.
3).    Komponen primer ketiga dinamakan cerebrotonia. Sebenarnya Sheldon belum pasti benar tentang penamaan ini. Dinamakan demikian karena dikirakan bahwa aktifitas pokok adalah perhatian dengan sadar, serta inhibisi terhadap gerakan-gerakan jasmaniah. Kemudian mempunyai sifat-sifat temperamen sebagai berikut :
a).    Sikapnya ragu-ragu, kurang gagah
b).    Kurang berani bergaul dengan orang banyak (sociophopial)
c).    Kurang berani berbicara dengan orang banyak
d).   Suara kurang bebas
e).    Tidurnya kurang nyenyak (sulit tidur)
f).     Nampak lebih muda dari sebenarnya
g).    Bila menghadapi kesukaran butuh mengasingkan diri
B.     Tipologi Temperamen
Aspek kedua yang merupakan dasar penyusunan tipologi psikologi kepribadin adalah tipologi temperamen, hal ini juga sering dinyatakan sebagai konstitusi psikis, artinya sifat-sifat dasar tertentu dari kelakuan, prinsip-prinsip elementer yang dapat ditemui kembali dalam semua perbuatan kita dan mentipe kelangsungan jalannya kelakuan kita tersebut.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa perumusan tipologi temperamen merupakan aspek kejiwaan dari pada kepribadian, yang kemudian temperamen dipengaruhi oleh konstitusi jasmaniah. Sehingga temperamen tersebut berasal dari apa yang dibawa sejak lahir dan karenanya sukar untuk dirubah oleh pengaruh dari luar.
Dalam hal ini secara singkat pula akan diuraikan bahasan tentang tipologi temperamen menurut beberapa tokoh yang ada, dengan penjelasan sebagai berikut :
1.    Tipologi-tipologi berdasarkan sifat kejiwaan semata :
a.    Tipologi Plato[11]
Dalam bahasan ini Plato membedakan adanya tiga fungsi/bagian jiwa, yaitu ;
1).    Pikiran (logos), yang berkedudukan di kepala.
2).    Kemauan (thumos) yang berkedudukan di dada.
3).    Hasrat (epithumid) yang berkedudukan diperut.
Kemudian Plato menjelaskan sumber dari pada ketiga fungsi jiwa tersebut di atas yang mengacu pada kebajikan, di antaranya adalah :
1).    Pikiran (logos), yang bersumber atas kebijaksanaan.
2).    Kemauan (thumos) yang bersumber atas keberanian.
3).    Hasrat (epithumid) yang bersumber atas penguasaan diri.
Keselarasan atas macam kebajikan tersebut akan mewujudkan kebenaran atau keadilan. Menurut uraian ketiga macam tersebut dapat disimpulkan bahwa tentu ada tipe manusia tertentu, sebab dari ketiganya tentu tidak sama kuatnya, sehingga ada orang yang paling kuat kebijaksanaannya, atau keberaniaannya atau bahkan kuat menahan hawa nafsu (penguasaan diri). Kemudian atas dasar dominasi salah satu di antara ketiga bagian jiwa itu, maka manusia digolongkan menjadi  tiga tipe yaitu ;
1).    Orang yang terutama dikuasai oleh daya pikirnya.
2).    Orang yang terutama dikuasai oleh kemauannya.
3).    Orang yang terutama dikuasai oleh hasratnya.
b.    Mazhab Perancis
Sebagaimana dalam cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain, ahli-ahli Perancis tampil di depan dengan madzhabnya, demikian pula dalam lapangan yang dibicarakan sekarang ini dapat disaksikan adanya madzhab Perancis. Dengan dirintis oleh Fourier, sederetan ahli-ahli seperti Bourdt (1858), Azam (1887), Peres (1892) Ribot (1892) Queyrat (1896), Malapert (1902) dan lain-lain.
Kalau Characterologie di Jerman mula-mula menjadi monopolinya ahli-ahli filsafat serta ahli-ahli ilmu pendidikan dan baru kemudian dibicarakan juga ahli-ahli psikiatri, maka Perancis hal tersebut mula-mula dibahas oleh ahli filsafat sosial, lewat ahli-ahli psikiatri, kemudian dilanjutkan ahli-ahli psikologi. Di antaranya adalah teori Queyrat dan teori Malapert. Dengan uraian sebagai berikut :[12]
1).    Tipologi Queyrat
Queyrat (1896) menyusun tipologi atas dasar dominasi daya-daya jiwa, yaitu daya kognitif, daya afektif dan daya konatif. Berdasarkan atas daya-daya tersebut, mana yang lebih dominan, maka dikemukakan tipe-tipe sebagai berikut :
a).    Salah satu daya yang dominan, yaitu :
(1).       Tipe meditatif, atau intelektual di mana daya kognitif dominan
(2).       Tipe emosional, di mana daya afektif dominan
(3).       Tipe aktif, di mana daya konatif dominan
b).    Dua daya yang dominan yaitu :
(1).       Tipe meditatif-emosional atau sentimental, dimana daya kognitif dan daya afektif dominan
(2).       Tipe aktif-emosional atau orang garang, dimana daya konatif dan daya afektif dominan
(3).       Tipe aktif-meditatif atau orang kemauan, dimana daya konatif dan daya kognitif dominan
c).    Ketiga daya dalam proporsi yang seimbang
(1).       Tipe seimbang
(2).       Tipe amoroph
(3).       Tipe apathis
d).   Ketiga daya itu ada atau berfungsi secara tak teratur
(1).       Tipe tak stabil
(2).       Tipe tak teguh hati
(3).       Tipe kontradiktoris
e).    Ada tiga macam tipe yang tidak sehat
(1).       Tipe hypochondris
(2).       Tipe melancholis
(3).       Tipe histeris
Kesembilan tipe yang pertama adalah tipe-tipe orang sehat, berikutnya tipe orang-orang yang dalam keadaan antara sehat dan tidak sehat, sedangkan tiga tipe terakhir adalah tipe-tipe orang yang menderita sakit.
2).    Tipologi Malapert
Malapert (1902) termasuk dari golongan Perancis juga menggolong-golongkan manusia atas dasar dominasi daya-daya jiwa atau aspek-aspek kejiwaan tertentu. Pendapat Malapert itu dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
a).    Tipe intelektual, yang terdiri atas ;
(1).       Golongan analitis
(2).       Golongan reflektif
b).    Tipe afektif, yang terdiri atas ;
(1).       Golongan emosional
(2).       Golongan bernafsu
c).    Tipe volunter, yang teridi atas ;
(1).       Golongan tanpa kemauan
(2).       Golongan besar kemauan
d).   Tipe aktif, yang terdiri atas ;
(1).       Golongan tak aktif
(2).       Golongan aktif
2.    Tipologi Kant & Neo-Kantinisme :
Biasanya orang mengenal Imanuel Kant serta pengikut-pengikutnya yaitu tokoh-tokoh Kantianisme dan Neo-Kasntianisme : dalam lapangan filsafat. Namun seperti telah dikemukakan, Characterologie di Jerman mula-mula menjadi monopolinya ahli-ahli filsafat serta ahli-ahli ilmu pendidikan dan baru kemudian dibicarakan juga ahli-ahli psikologi. Demikianlah Kant beserta pengikut-pengikutnya banyak juga berbicara tentang kepribadian. Yaitu dengan uraian sebagai berikut :[13]
a.       Tipologi Kant
Teori Immanuel Kant (1724-1804) tentang kepribadian manusia sebagian terdapat dalam kritik der praktischen Vernunft (1788), tetapi terutama terdapat dalam Anthropologie (1799). Maka Kant mencakup kedua arti pengertian watak (character), yaitu :
1).    Watak dalam arti etis atau normatif, yang terutama dikupasnya dalam kritik der praktischen Vernunft.
2).    Watak sebagai kualitas-kualitas yang membedakan orang yang satu dari yang lain secara khas (watak dalam arti deskritif atau kepribadian), yang terutama di kupasnya dalam Anthropologie.
Di samping yang dua hal itu Kant mengemukakan kualitas yang ketiga, yaitu temperamen. Temperamen dianggapnya sebagai corak kepekaan atau sinneart, sedangkan karakter dipandangnya sebagai corak pikiran atau denkungsart. Selanjutnya temperamen dianggapnya mengandung dua aspek, yaitu
1).    Aspek fisiologis, yaitu konstitusi tubuh, kompleks atau susunan cairan-cairan jasmaniah.
2).    Aspek Psikologis, yaitu kecenderungan-kecenderungan kejiwaan yang disebabkan oleh komposisi darah. Yang dalam aspek psikologis ini terdiri dari dua macam temperamen, yaitu sebagai berikut :
a).    Temperamen perasaan, yang mencakup dua tipe temperamen, yaitu :
(1).       Sanguinis
(2).       Melancholis
b).    Temperamen kegiatan, yang mencakup dua tipe temperamen, yaitu :
(1).       Choleris
(2).       Phlegmatis
Selanjutnya pendapat Kant yang telah diuraikan itu kiranya dapat diikhtisarkan dengan bagan sebagai berikut :
(BAGAN : 1)
 Selanjutnya Kant mencandra temperamen-temperamen tersebut sebagai berikut :
1).    Temperamen sanguis
Temperamen ini ditandai oleh sifat yang mudah dan kuat menerima kesan (pengaruh kejiwaan), tetapi yang tidak mendalam dan tidak tahan lama. Adapun sifat-sifat khas golongan ini adalah :
·         Suasana perasaannya selalu penuh harapan, segala sesuatu pada suatu waktu dipandangnya penting tetapi sebentar kemudian tidak dipikirkan lagi.
·         Sanguisinicus sering  menjanjikan sesuatu tetapi jarang ditepapti, karena apa yang dijanjikan itu tak dipikirkannya secara mendalam apakah dia dapat memenuhinya atau tidak.
·         Dengan senang menolong orang lain, tetapi tidak dapat dipakai sandaran.
·         Dalam pergaulan peramah dan periang.
·         Umumnya bukan penakut, tetapi kalau bersalah sukar bertaubat, dia menyesal tetpi sesal itu lekas lenyap.
·         Menegnai soal-soal "zekelijk" lekas bosan, tetapi mengenai soal permainan atau hiburan tidak jemu-jemu.
2).    Temperamen melancholis
Sifat-sifat khas temperamen ini adalah :
·         Semua hal yang bersangkutan dengan dirinya dipandangnya penting dan selalu disertai dengan syakwasangka atau kebimbangan.
·         Perhatiannya terutama tertuju kepada segi permasalahan kesukaran-kesukarannya.
·         Tidak mudah membuat janji, karena dia berusaha akan selalu menempati janji yang telah dibuatnya, tetapi hal ini dilakukannya tidak atas dasar pertimbangan moral melainkan karena kalau tidak menempati janji itu sangat merisaukan jiwanya : hal ini juga menyebabkan dia kurang percaya dan tidak mudah menerima keramahtamahan orang lain.
·         Suasana perasaanya umumnya juga bertentengan dengan suasana perasaan sanguinicus : hal ini menyebabkan mengurangi kepuasan akan keadaannya, dan kurang dapat melihat kesenangan orang lain.
3).    Temperamen choleris
Sifat-sifat khas golongan temperamen ini adalah :
·         Lekas terbakar tetapi juga lekas padam atau tenang, tanpa membenci.
·         Tindakan-tindakannya cepat tetapi tidak constant.
·         Selalu sibuk, tetapi dalam kesibukannya itu dia lebih suka memerintah dari pada mengerjakannya sendiri.
·         Nafsunya yang terutama ialah mengejar kehormatan ; suka sibuk di mata orang banyak dan suka dipuji secara terang-terangan.
·         Suka pada sikap semu dan formal.
·         Suka bermurah hati dan melindungi, tetapi hal ini dilakukannya bukan karena dia sayang kepada orang lain melainkan karena sayang diri sendiri, sebab dengan berbuat demikian itu dia akan mendapatkan penghargaan.
·         Dalam berpakaian selalu cermat dan rapi, karena dengan demikian itu dia Nampak lebih cendekia dari pada yang sebenarnya.
4).    Temperamen phlegmatis
Phlegma berarti ketidaklembaman, jadi berarti tidak malas. Phlegma sebagai kelemahan ialah kecenderungan ke arah ketidakpekaan ; alasan yang kuat tidak cukup merangsangnya untuk bertindak ; ketidakpekaan ini menyebabkan adanya kecenderungan ke arah kejemuan dan mengantuk. Phlegma sebagai kekuatan sebaliknya, merupakan sifat yang tidak mudah bergerak tetapi kalau sudah bergerak lalu tahan lama. Dengan demikian sifat-sifat khas dari golongan ini adalah sebagai berikut :
·         Lambat menjadi panas tetapi panasnya itu tahan lama.
·         Tidak mudah marah.
·         Darah yang dingin itu tak pernah dirisaukannya
·         Cocok untuk tugas-tugas ilmiah.
Dengan sengaja pencandraan Kant ini dikemukakan dengan agak mendetail, karena pencandraan ini nanti ternyata besar pengaruhnya terhadap ahli-ahli yang lebih kemudian. Dalam pada itu masih ada satu hal yang perlu dikemukakan, yaitu masalah temperamen campuran. Menurut Kant temperamen campuran itu tidak ada karena dengan beberapa alasan sebagai berikut :
a).    Temperamen-temperamen yang bertentangan dan mungkin berkombinasi, jadi tak aka ada kombinasi antara melancholis dan sanguinis, ataupaun antara choleris dengan phlegmatis.
b).    Kombinasi-kombinsani yang lain, seperti kombinasi antara sanguinis dan choleris ataupun melancholis dengan phlegamtis akan saling menetralkan, jadi tak mungkin ada.
b.      Tipologi Neo-Kantinisme
Salah seorang neo-Kantianis yang terkenal adalah Ensellhans. Karyanya dalam lapangan psikologi kepribadian adalah characterbildung (1908). Berbeda dari Kant, dia membatasi temperamen pada segi perasaaan saja, sebab dia berpendapat memang hanya itulah yang ada, apa yang disebut Kant temperamen kegiatan itu menurut dia pada hakikatnya adalah konstitusi afektif yang menentukan kegiatan dalam hubungan dengan kehidupan kemauan. Kepribadian (character) orang nampak dari tindakan-tindakannya dan tindakan-tindakan itu selalu tindakan kemauan. Sedang kemauan itu adalah penjelmaan dari pada temperamen. Seperti secara alur dalam bagan berikut :
(BAGAN : 2)
Adapun temperamen itu tergantung kepada dua hal pokok, yaitu
a.       Kepekaan kehidupan afektif, yaitu mendalam dan tidaknya pengaruh perangsang.
b.      Bentuk kejadian afektif, ini tergantung kepada dua hal sebagai berikut :
1).    Mobilitas perasaan
2).    Kekuatan perasaan
Kedua hal di atas, yaitu kepekaan kehidupan afektif dan bentuk kejadian afektif dapat menimbulkan kekuatan penggerak dari pada perasan, dan selanjutnya ini merupakan impuls bagi motif kemauan. Jadi apa yang telah dikemukakan pada bagan (bagan : 2) tadi dapat dijelaskan dengan bagan sebagai berikut :
(BAGAN : 3)
 Atas dasar variasi berbagai hal yang merupakan unsur-unsur temperamen itu Enselhans menggolongkan manusia ke dalam empat tipe sesuai dengan pendapat ahli-ahli yang lebih dahulu ; dalam pada itu masing-masing tipe itu dikhusukan lagi menjadi dua golongan. Dengan demikian terdapat delapan golongan manusia. Adapun tipe-tipe manusia menerut Enselhans itu dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
TABEL 3
Tipologi Madzhab Perancis Neo-Kantinisme : Enselhans
Temperamen
Kepekaan
Kehidupan
Afektif
Bentuk
Afektif
Mopbilitas
Kejadian
Kekuatan
Kekuatan
Penggerak
dp.Perasaan
Golongan / Sifat
Khas Orangnya
Melancholis
Mendalam
Tetap
Kuat
a. Kuat
Orang giat penuh dengan cita-cita
b. Lemah
Orang murung yang pengelamun
Choleris
Tidak Mendalam
Berganti-ganti
Kuat
a. Kuat
Orang kemauan yang garang / hebat
b. Lemah
Orang Perasaan, mudah terseinggung
Phlegmatis
Mendalam
Tetap
Lemah
a. Kuat
Orang berdarah dingin, pemikir yang kritis
b. Lemah
Orang yang bersikap masa bodoh / apathis
Sanguistis
Tidak Mendalam


a. Kuat

b. Lemah


Dalam pada itu Enselhans mengemukakan adanya dua aspek watak (character), yaitu :
a.       Aspek formal, yang mencakup sifat-sifat :
1).    Konsekuen, yang menggambarkan keseragaman tindakan-tindakan
2).    Kekuatan (kekuatan kemauan)
3).    Keuletan
4).    kebebasan
b.      Aspek material, yaitu arah dari pada kemauan, atau lebih jelasnya arah tindakan, apakah arah tindakan itu baik ataukah buruk.
3.    Tipologi J. Bahnsen
Julius Bahnsen (1830-1881) dengan karyanya Beitrage zur Charaterologie (1867) yang terdiri dari dua jilid. Rumke (1951) menyebut Julius Bahnsen sebagai orang yang pertama dalam menggunakan istilah Charaterologie. Bahnsen berpendapat bahwa kepribadian ditentukan oleh tiga macam kejiwaan, yaitu :[14]
a.       1. Temperamen
Dalam hal ini temperamen ditentukan oleh empat faktor, yaitu :
1).    Spontanitas (spontaneity)
Spontanitas nampak jika orang menentukan sikap atau bertindak, terlepas dari pengaruh orang lain, jadi sikap atau tindakan itu benar-benar berpangkal pada jiwa sendiri. Sikap atau tindakan disebut spontan apabila diambil atau dilakukan tanpa adanya paksaan dari luar (orang lain). Dalam congritnya variasi spontanitas ini boleh dikata tak terhingga, akan tetapi secara teori dapat dilakukan dikhotomisasi, sehingga ada dua macam spontanitas, yaitu (a). yang lemah dan (b). yang kuat.
2).    Reseptivitas (receptivity)
Yang dimaksud dengan reseptivitas ialah cara bagaimana orang menerima kesan, apakah cepat atau lambat. Juga di sini secara teori terdapat dua macam reseptivitas, yaitu (a). yang cepat dan (b). yang lambat.
3).    Impresionabilitas (impressionability)
Yang dimaksud dengan impresionabilitas ialah mendalam atau tidaknya pengaruh sesuatu keadaan terhadap jiwa. Juga kualitas ini dalam congritnya tidak terhingga variasinya, akan tetapi secara teori dapat dibedakan adanya dua macam impresionabilitas, yaitu (a). yang mendalam dan (b). yang tidak mendalam.
4).    Reaktivitas (reactivity)
Adapun yang dimaksud dengan reaktivitas ialah lama atau tidaknya sesuatu kesan mempengaruhinya. Secara teori kualitas ini juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). yang lama dan (b). yang tidak lama.
Dengan demikan, dari keempat faktor pokok itu dapat diketemukan adanya 16 macam kombinasi, sehingga secara teori juga ada 16 macam variasi temperamen, yang terdiri dari empat macam temperamen pokok, yaitu
a).    Golongan temperamen choleris
b).    Golongan temperamen sanguinis
c).    Golongan temperamen phlegmatis
d).   Golongan temperamen anamatisch
Adapun dari ke-16 kombinasi tersebut dapat lebih jelas diperiksa pada bagan serta tabel berikut ini :
(BAGAN : 4)

Apabila kualitas kuat / cepat / mendalam / lama diberi tanda (+), sedangkan yang sebaliknya kita beri tanda (-), maka kesimpulan dapat kita lihat pada tabel berikut ini :
TABEL : 4
Kombinasi Faktor-Faktor Temperamen : Julius Bahnsen
No.
Spontanitas
Receptivitas
Impresionabilitas
Reaktifitas
Kualitas
tanda
Kualitas
tanda
Kualitas
tanda
Kualitas
tanda
1
2
3
4
5
1
Kuat
+
Cepat
+
Mendalam
+
Lama
+
2
Kuat
+
Cepat
+
Mendalam
+
Tak Lama
-
3
Kuat
+
Cepat
+
Tak.Men.
-
Lama
+
4
Kuat
+
Cepat
+
Tak.Men.
-
Tak Lama
-
5
Kuat
+
Lambat
-
Mendalam
+
Lama
+
6
Kuat
+
Lambat
-
Mendalam
+
Tak Lama
-
7
Kuat
+
Lambat
-
Tak.Men.
-
Lama
+
8
Kuat
+
Lambat
-
Tak.Men.
-
Tak Lama
-
9
Lemah
-
Cepat
+
Mendalam
+
Lama
+
10
Lemah
-
Cepat
+
Mendalam
+
Tak Lama
-
11
Lemah
-
Cepat
+
Tak.Men.
-
Lama
+
12
Lemah
-
Cepat
+
Tak.Men.
-
Tak Lama
-
13
Lemah
-
Lambat
-
Mendalam
+
Lama
+
14
Lemah
-
Lambat
-
Mendalam
+
Tak Lama
-
15
Lemah
-
Lambat
-
Tak.Men.
-
Lama
+
16
Lemah
-
Lambat
-
Tak.Men.
-
Tak Lama
-


Dengan berbagai uraian di atas, maka dapat disimpulkan untuk mengetahui temperamen menurut Bahnsen, dalam beberapa pedoman berikut ini.
·         Spontanitas kuat, reseptivitas cepat : Choleris
·         Impresionabilitas tak mendalam, reaktifitas tak lama : Sanguinis
·         Reseptivitas lambat, reaktifitas lama : ph;egmatis
·         Spontanitas lemah, impresionabilitas mendalam : anamatisch
2. Kemauan
Kemauan oleh Bahnsen dipandang penting dan mengendalikan sebagian besar dari pada tingkah laku manusia.
b.      Posodynie
Yang dimaksud dengan posodyne ialah ketabahan manusia dalam menghadapi kesukaran atau dalam menderita. Dalam hal ini ada dua macam, yaitu
1).    Posodynie kuat, yang ternyata pada kesabaran serta keteguhan hati pada waktu menderita atau menghadapai kesukaran, kepercayaan akan datangnya hari yang baik (eukologi) dan sebagainya.
2).    Posodynie lemah, yang ternyata pada sifat lekas putus asa, lekas berkeluh kesah, lekas kehilangan kepercayaan terhadap akan datangnya hari yang lebih baik (dyskologi) dan sebagainya.
c.       Daya Susila
Yang dimaksud dengan daya susila ialah kecakapan manusia untuk membedakan dan meyakini hal-hal yang baik dan yang buruk (dalam berbagai bentuknya, seperti adil dan tidak adil, patut dan tidak patut, susila dan tidak susila dan sebagainya), serta untuk mengatur tingkah lakunya sesuai dengan hal tersebut.
Nyata sekali, bahwa kombinasi ketiga macam keadaan yang telah dikemukakan itu dapat merupakan variasi yang banyak sekali. Dipandang dari soal yang terakhir ini teori Bahnsen itu lebih dekat kepada cara pendekatan pensifatan (traits aproach), karena dia mengemukakan banyak sekali segi-segi kejiwaan yang harus diperhitungkan dalam memperbandingkan kepribadian manusia.
4.    Tipologi E. Meumann
Ernst Meumann (1862-1915) boleh dikatakan seorang sarjana yang ideal pada zamannya. Ia belajar di Tubingen, Berlin, Halle, Bonn dalam ilmu-ilmu theology, fisiologi, kedokteran, fisika, filsafat dan psikologi, kemudian menjadi guru besar di Zurich, Konigsberg, Munster, Halle, Leipzig dan Hamburg.
Bukunya yang mengupas soal kepribadian berjudul intelligenz und wille. Seperti gurunya yaitu Wundt, Meumann berpandangan Voluntaristis : watak diberinya batasan sebagai disposisi kemauan, secara bagan dapat digambarkan sebagai berikut :
(BAGAN : 5)
 Oleh karena itu watak (character) adalah disposisi kemauan yang manifest dalam perbuatan, maka pembahasan tentang watak dapat dikerjakan dengan melalui pembahasan kemauan. Menurutnya kemauan mengandung tiga aspek pokok, yaitu :[15]
a.       Aspek yang mempunyai dasar kejasmanian
Dipandang dari segi ini Meumann dapat disebut bersifat fisiologis. Sifat-sifat kemauan itu mempunyai dasar fisiologis dan pada pokoknya tergantung kepada sistem saraf. Sehingga aspek ini mencakup :
1).    Intensitas atau kekuatan kemauan : ada orang yang mempunyai konstitusi saraf yang kuat dan karenanya mempunyai kekuatan yang besar dan sebaliknya.
2).    Lama atau tidaknya orang melakukan tindakan kemauan : juga di sini dengan mempergunakan hasil-hasil penyelidikan Mosso, Krapelin dan Stern ditunjukkan bahwa perbedaan dalam hal ini berpangkal pada perbedaan dalam kekuatan saraf.
3).    Sebagai taraf perkembangan kemauan yang terjadi berbagai individu yang juga punya dasar fisiologie, taraf-taraf tersebut adalah :
a).    Disposisi untuk bertindak secara instinktif atau impulsif, dan lawannya yaitu bertindak hati-hati dan menjangkau ke depan (melihat lebih jauh).
b).    Disposisi untuk bersikap menaruh perhatian (attentive).
c).    Disposisi untuk menentukan persetujuan ; dalam hal ini yang segera menentukan dan ada yang lama menimbang-nimbang.
d).   Disposisi untuk bertindak secara kebiasaan atau mekanis.
b.      Aspek afektif, yang menjelma dalam temperamen
Temperamen oleh Meumann diberinya batasan sebagai bentuk afektif aktifitas yang tergantung kepada kerja sama antara disposisi-disposisi afektif dan volisional. Bagaimanakah kita mempengaruhi disposisi-disposisi afektif itu ? Meumann menjawab soal ini dengan menunjuk kepada sifat-sifat fundamental perasaan. Jadi dengan demikian analisis tentang temperamen lalu menjadi analisis tentang perasaan. Sifat-sifat fundamental tersebut adanya pada manusia dalam conretonya boleh dikata tak terhingga banyaknya variasinya, tetapi dalam abstractonya secara teori, dapat dilakukan dikhotomosasi, yaitu penggolongan menjadi dua golongan. Adapun sifat-sifat fundamental perasaan itu adalah sebagai berikut :
1).    Berdasarkan atas mudah dan tidaknya terpengaruh oleh perangsang, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). mudah dan (b). sukar.
2).    Berdasarkan kualitasnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). senang dan (b). tak senang.
3).    Berdasarkan intensitas (kekuatan atau kejelasannya) dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). kuat / mendalam dan (b). tak kuat / tak mendalam.
4).    Berdasarkan atas lama berlangsungnya, yaitu lama atau tidaknya ada dalam kesadaran, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). lama dan (b). tak lama.
5).    Berdasarkan atas pengaruhnya (effect) setelah pernah tidak lagi disadari, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). lama, selalu kemabli kesadaran dan (b). singakat.
6).    Berdasar atas genesisnya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). terutama ditimbulkan oleh perangsang dari luar atau dari dalam dan (b). terutama ditimbulkan oleh isi-isi kesadaran.
7).    Berdasarkan atas hubungannya dengan lain-lain isi kesadaran, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). rapat / erat, ada penyatuan dan (b). tak rapat.
8).    Berdasarkan atas hubungannya dengan subyek, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a). diobyekkan, misalnya hari yang menggembirakan, pagi yang riang dll. dan (b). disubyekkan, yaitu perasaan dipandang sebagai afeksi subyek semata-mata.
Kemudian berdasarkan atas bahan-bahan yang baru saja dikemukakan itu, telah dapat disusun suatu rangka teori temperamen, namun dalam hal ini Meumann masih mencari segi-segi fisiologinya. Modus atau bentuk terlahirnya perasaan itu dapat bermacam-macam dan tendens-tendens ekspresif ini mempengaruhi keadaan fisiologis tertentu yaitu :
a).    Susunan saraf pusat
b).    Alat-alat motoris
c).    Fungsi-fungsi vaso-motoris
Telah menjadi pengetahuan umum bahwa kegembiraan biasanya meningkatkan kegiatan, mendorong ke arah aktif, sedangkan kesedihan biasanya menghilangkan atau menurunkan kegiatan, menyebabkan pasif. Dalam pada itu harus diingat pula, orang akan berlain-lainan reaksinya, misalnya saja orang malu dapat menjadi marah dapat pula menjadi pucat.
c.       Aspek kecerdasan (intelligenz)
Aspek kecerdasan ini mencakup tiga macam kualitas, sebagai berikut :
1).    Yang berhubungan dengan sifat kerja mental, dalam hal ini dapat dibedakan adanya tiga kualitas berfikir, yaitu :
·         Berfikir produktif
·         Berfikir reproduktif
·         Berfikir tidak produktif
2).    Yang melingkupi taraf kebebasan intelektual, dalam hal ini dapat dibedakan adanya :
·         Yang tinggi taraf kebebasannya – bebas
·         Yang rendah taraf kebebasannya – tak bebas
3).    Yang melingkupi perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, dalam hal ini ada dua, yaitu :
·         Berfikir analitis dan lawannya berfikir sentesis
·         Berfikir intuitif dan lawannya berfikir diskurtif
5.    Teori Heymans
Hasil karya Heymans merupakan kemajuan satu langkah dalam lapangan tipologi atas dasar temperamen. Dia tidak lagi seperti ahli-ahli yang lebih dahulu yang menyusun teorinya yang atas dasar pemikiran spekulatif, tetapi dia atas dasar data-data penyelidikan empiris. Dengan mempergunakan data-data yang berasal dari biografi, keterangan tentang keturunan serta keadaan anak-anak sekolah menengah di Nederland, secara komparatif dengan mempergunakan tehnik statistik Heymans menarik kesimpulan-kesimpulannya yang terutama dirumuskan dalam Inleiding tot de speciale psychology (1948).
Data yang dianalisis oleh Heymans adalah berupa :
a.       Bahan biografis : 110 biografi orang-orang yang berbeda waktu hidupnya, tempat tinggalnya dan kebangsaannya.
b.      Keturunan mengenai 458 keluarga meliputi 2523 orang.
c.       Keterngan mengenai murid-murid sebesar 3938 orang
d.      Hasil penelitian laboratorium.
Dari hasil penelitian berdasar pada data-data di atas, Heymans berpendapat bahwa manusia itu sangat berlain-lainan kepribadiaannya, dan tipe-tipe kepribadian itu bukan main banyak macamnya, boleh dikata tak terhingga. Artinya tiap orang memiliki kualitas dalam taraf tertentu, dalam concretonya adanya kualitas-kualitas tersebut tak terhingga variasinya, akan tetapi dalam abctractonya atau secara teorinya dapat dilakukan dikhotomisasi, dan secara garis besarnya dapat digolongakan menjadi tiga macam kualitas kejiwaan seseorang, yaitu :[16]
a.      Emosionalitas
Yaitu mudah atau tidaknya perasaan orang terpengaruh oleh kesan-kesan. Pada dasarnya semua orang memiliki kecakapan ini, yaitu kecakapan untuk menghayati sesuatu perasaan karena pengaruh sesuatu kesan, tetapi kecakapan tersebut dapat berlain-lainan dalam tingkatannya, dan dalam dikhotomi terdapat :
1).    Golongan yang emosianal, artinya yang emosionalitasnya tinggi, yang sifat-sifatnya antara lain impulsif, mudah marah, suka tertawa, perhatian tidak mendalam, tidak praktis, tetap di dalam pendapatnya, ingin berkuasa, dapat dipercaya dalam soal keuangan.
2).    Golongan yang tidak emosional, yaitu golongan yang emosionalitasnya tumpul atau rendah, yang sifat-sifatnya antara lain berhati dingin, zakelijk, berhati-hati dalam menentukan pendapat, praktis, jujur dalam batas-batas hukum, pandai menahan nafsu birahi dan memberi kebebasan kepada orang lain.
b.      Proses pengiring (skunder)
Yaitu banyak sedikitnya pengaruh kesan-kesan terhadap kesadaran setelah kesan-kesan itu sendiri tidak lagi ada dalam kesadaran. Di sini ada beberapa tingkatan, yang dalam dikhotomi ada dua tingkatan, yaitu :
1).    Golongan yang proses pengiringnya kuat (berfungsi skunder), yang sifat-sifatnya antara lain tenang tak lekas putus asa, bijaksana (verstanding), suka menolong, ingatan baik, dalam berfikir bebas, teliti, konsekuen dalam politik moderat atau konservatif.
2).    Golongan yang proses pengiringnya lemah (berfungsi primer), yang sifat-sifatnya antara lain tidak tenang, lekas putus asa, ingatan kurang baik, tidak hemat, tidak teliti, tidak konsekuen, suka membeo, dalam politik radikal (egois).
c.       Aktifitas
Adapun yang dimaksud dengan aktifitas di sini ialah banyak sedikitnya orang menyatakan diri, menjelmakan perasaan-perasaannya dan pikiran-pikirannya dalam tindakan yang spontan. Dalam hal ini oleh Heymans digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
1).    Golongan yang aktif, yaitu golongan yang karena alasan lemah saja telah berbuat, sifat-sifat golongan ini antara lain suka bergerak, sibuk, riang gembira, dengan kuat menentang penghalang, mudah mengerti, praktis loba akan uang, pandangan luas dan setelah bertengkar lekas mau berdamai.
2).    Golongan yang tidak aktif, yaitu golongan yang walaupun ada alasan-alasan yang kuat belum juga mau bertindak, sifat-sifat golongan ini antara lain lekas mengalah, lekas putus asa, segala soal dipandang berat, perhatian tak mendalam, tidak praktis, suka membeo, nafsu birahi kerap kali menggelora, boros dan segan membuka diri.
 Dengan dasar tiga kategori di atas, yang masing-masing terdiri atas dua golongan, maka Heymans menemukan delapan tipe, hal ini dapat dilihat dalam bagan berikut ini : 
(BAGAN : 6)
 Kemudian jika golongan yang emosianal, yang proses pengiringnya kuat, serta yang aktif diberi tanda (+), sedangkan yang sebaliknya diberi tanda (-), maka ikhtisar demikian dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
TABEL : 5
Ikhtisar Tipologi Temperamen : Heymans
No.
Emosional
Proses Pengiring
Aktifitas
Tipe
Sifat
tanda
Sifat
tanda
Sifat
tanda
1
Emosional
+
Kuat
+
Aktif
+
Gepasionir
2
Emosional
+
Kuat
+
Tak Aktif
-
Sentimentil
3
Emosional
+
Lemah
-
Aktif
+
Choleris
4
Emosional
+
Lemah
-
Tak Aktif
-
Nerveus
5
Tak Emosional
-
Kuat
+
Aktif
+
Phlegmatis
6
Tak Emosional
-
Kuat
+
Tak Aktif
-
Apathis
7
Tak Emosional
-
Lemah
-
Aktif
+
Sanguinis
8
Tak Emosional
-
Lemah
-
Tak Aktif
-
Amoprh

6.    Teori G Ewald
G. Ewald memepunyai titik berangkat dan sudut pandangan yang berbeda dari ahli-ahli yang telah dibicarakan sebelumnya. Dia berangkat dari sudut pandangan psikiatrik, karya utamanya dalam bidang teori kepribadian dalam Temperamen und Character (1924). Di dalam tnjauannya yang beisfat psikiatrik itu Ewald membuat perbedaan secara tajam antara temperamen dan watak. Sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut ini :[17]
a.       Temperamen
Temperamen adalah konstitusi psikis, yang berhubungan dengan konstitusi jasmani. Jadi di sini keturunan atau dasar memainkan peranan penting, sedang pengaruh pendidikan dan lingkungan boleh dikata tidak ada. Selanjutnya Ewald berpendapat bahwa temperamen itu sangat erat hubungannya dengan biotonus (tegangan hidup, kekuatan hidup dan tegangan energi), yaitu intensitas serat irama hidup. Biotonus ini ada selama hidup dan adanya pada diri seseorang constant, terutama tergantung kepada konstelasi hormon-hormon.
Biotonus ini tergantung faktor kejiwaan yang merupakan temperamen, yaitu :
1).    Intensitas dan tempo hidup
2).    Perasaan-perasaan vital yang menyertainya (suasana perasaan individu)
Selanjutnya Ewald membedakan adanya tiga macam temperamen, yang perbedaanya terutama bersifat kuantitatif, berdasarkan atas kuat atau lemahnya biotonus itu, yaitu :
1).    Temperamen sanguinis atau hipomanis, dengan biotonus kuat
2).    Temperamen melancholis atau depresif, dengan biotonus lemah
3).    Temperamen biasa atau normal, dengan biotonus sedang
b.      Watak (character)
Ewald memberi batasan watak sebagai totalitas dari keadaan-keadaan dan cara bereaksi jiwa terhadap perangsang. Secara teoritis dia membedakan antara : watak yang dibawa sejak lahir dan watak yang diperoleh, dengan keterangan berikut :
1).    Watak yang dibawa sejak lahir
Watak yang dibawa sejak lahir (angeborener Charakter, watak genotipis), yaitu aspek yang merupakan dasar dari pada watak, watak genotipis ini sangat erat hubungannya dengan keadaan fisiologis, yakni watak kualitas susunan saraf pusat.
2).    Watak yang diperoleh
Watak yang diperoleh (erworbener Character, watak phaenoripis), yakni watak yang telah dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman dan pendidikan.
Sebagai kesimpulan atas perbedaan temperamen dan watak menurut Ewald adalah bahwa temperamen boleh dikata tetap selama hidup, jadi tidak mengalami perkembangan, karena temperamen tergantung kepada konstelasi hormon-hormon, sedangkan konstelasi hormon-hormon itu tetap selama hidup. Adapun watak, walaupun pada dasarnya telah ada tetapi masih mengalami pertumbuhan atau perkembangan, watak sangat tergantung kepada faktor-faktor eksogen.
Dengan demikian telah nyata aspek-aspek atau komponen-komponen apa yang ada pada manusia, namun dalam menyusun tipologinya Ewald menggunakan prinsip-prinsip lain, yang pada pokoknya didasarkan kepada "busur refleks" (menurut psikologi lama), yang menyatakan bahwa tingkah laku itu tersusun atas tiga stadia yaitu :
a.       Penerimaan rangsang
b.      Penyimpanan dan pengolahan kesan perangsang
c.       Reaksi, yakni penjelmaan perangsang yang telah disimpan dan diolah itu dalam tindakan
 Untuk memperjelas pendapat tersebut dapat dilukiskan dalam bagan busur reflek : tiga stadia tingkah laku, berikut ini :
(BAGAN : 7)
 Masing-masing stadium yang digambarkan di atas, oleh Ewald dapat digunakan dalam menggolongan tipologi, dengan keterangan sebagai berikut :
1).    Stradium I, disebut oleh Ewald Eindrucksfahingkeit, yakni kecakapan menerima kesan-kesan atau kepekaan terhadap perangsang (yang diberi lambang Ed). Dalam hal ini masih dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu :
a.       Kepekaan terhadap perasaan-perasaan tinggi atau empfinadlichkeit (yang diberi lambang E)
b.      Kepekaan terhadap perasaan-perasaan instinktif atau triebesfahigkeit (yang diberi lambang Tr)
2).    Stadium II, terdiri dari dua macam, yaitu :
a.       Retentionsfahigkeit (yang diberi lambang R), yakni retensi, proses pengiring dari pada apa yang tersebut di atas (stadium I). Jadi masalahnya ialah apakah pengalaman-pengalaman mempunyai bekas yang mempengaruhi tingkah laku selanjutnya. Maka dalam hal ini ada orang yang dapat menyimpan kesan-kesan dalam waktu yang lama dan ada yang tidak lama.
b.      Intrapsychische (yang diberi lambang IA), yaitu kecakapan jiwa untuk mengolah kesan-kesan.
3).    Stadium III, disebut Leitsfahigkeit (yang diberi lambang L), yaitu kecakapan untuk menjalankan apa yang telah diolah atau dipertimbangkan itu dalam perbuatan, jadi masalahnya ialah apakah individu dapat merealisasikan apa yang telah diolah atau dipertimbangkan itu.
Dengan berdasar pada pembicaraan di atas, maka bagan yang telah dikemukakan (bagan : 7) dapat disempurnakan dengan bagan berikut ini :
           (BAGAN : 8)
 


[1] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian. (Jakarta : PT. Raja Grafindo. 2003), 10 - 11
[2] Ibid., 12., Bandingkan dengan Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Badung: PT. Remaja Rosda Karya, 1996), 147., lihat juga Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), 22
[3] Ibid., 16
[4] Dalam bahasa Jawa disebut gembung, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut trunk
[5] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian,16
[6] Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, 23 – 24., lihat Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian, 18
[7] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian, 18
[8] Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian,, 24 – 25., bandingkan dengan Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian, 21 - 28
[9] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian, 34 – 35., bandingkan dengan Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UUM Press, 2007), 201., lihat juga Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, 26 – 27
[10] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian, 38 – 43., bandingkan dengan Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, 28 – 30., lihat juga Alwisol, Psikologi Kepribadian, 204-205
[11] Sumadi Suryabrata. Psikologi Kepribadian, 52., bandingkan dengan Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, 38 – 39
[12] Ibid., 53 - 55
[13] Ibid., 55 - 61
[14] Ibid., 61 - 65
[15] Ibid., 66 - 70
[16] Ibid., 71 – 74., bandingkan dengan Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, 33 – 36
[17] Ibid., 74 – 77., bandingkan dengan Agus Sujanto, et. al., Psikologi Kepribadian, 36 – 37